Intelektualitas merupakan permasalahan yang dibahas di kalangan kaderisasi maupun praktisi lembaga organisasi terutama organisasi Islam.Perkembangan zaman modern dewasa ini dan kemudahan akses untuk memperolehkan informasi, tak luput mempengaruhi gambaran umum mengenai pandangan orang intelek dan penggunaan istilah intelektual di berbagai bidang secara umumnya.Intelektualitas lebih ditonjolkan diartikan sebagai simbol yang sudah melekat pada diri seorang insani kader, karena mereka sudah menempuh berbagai jenjang pengkaderan tertentu.Bidang pendidikan kader dari periode ke periode bertumpu pada visi pengembangan yaitu berkembangnya fungsi dan kualitas perkaderan yang sistematik dengan memperteguh militansi, kompetensidan peran kader sebagai pelaku gerakan dalam menghadapi kompetisi dan tantangan yang kompleks di tengah dinamika perkembangan global.Sehingga hal ini menimbulkan masalah kompleks yang membelit percepatan perkembangan dalam memajukan suatu lembaga organisasi Islam di daerah pedesaan.Masalah tersebut menyatakan bahwa dengan menempuh pengkaderan yang cukup panjang, apalagi sampai ke jenjang yang tinggi, maka kader sudah dapat dikategorikan sebagai insan yang intelek.Hal ini kemudian mengantarkan pada pertanyaan, Benarkah kader identik dengan kata intelektual?Apakaha ciri-ciri dari kader sehingga bisa dinyatakan termasuk dalam katagori intelektual?. Berakibat ini menjadi menarik, karena pada kenyataannya, kader saat ini banyak dianggap telah mengalami degradasi intelektualitas.Salah satu bentuk penyebabnya adalah akses informasi yang sangat terbuka, yang memudahkan kader untuk mencari berbagai informasii yang berkenaan dengan tambahan wacana pribadi terhadap pembentukan karakter, tanpa perlu membaca dari referensi utamanya, yaitu buku teks ataupun kitab-kitab Islam. Namun keberadaan organisasi Islam berassaskan Ahlus sunnah yang dinaungi Nahdlatul Ulama dan nampaknya bersifat wajib dan harus dipilih dalam katagori proses pengkaderan mendasar. Sehingga memunculkan pertanyaan penelitian bagaimakah lembaga organisasi Islam tersebut berusaha untuk menarik pandangan kader nahdliyin pedesaan denganSTRATEGI INTELEKTUALISASI PROGESIFITAS MANHAJUL AL FIKR KADER AN-NAHDLIYAHOleh: Muhamad Khoirul Umam, M.Pd.I STAI Badrus Sholeh Kediri Email: [email protected] strategi berupa keunggulan dan ciri khas dari organisasi Islam tersebut yang berwawasan dan berpemahaman Ahlus sunnah?.Untuk menjaawab pertanyaan penelitian ini, peneliti mengumpulkan data melalui metode dokumentasi.Kemudian setelah data-data terkumpul, dianalisis melalui analisis isi dan analisis kritis. Sehingga penelitian ini menghasilkan 4 strategi alternatif tawaran yaitu memodelkan proses pengkaderan organisasi Islam model pemahaman penguasaan, memperbaiki dan memaksimalkan proses pengkaderan secara berkala berkelanjutan dalam menarik minat kader pedesaan, mengimplementasikan tugas public relations dalam menyebarkan wacana intektualisasi progesifitas manhajul al fikr, dan ada prestasi atau keunggulan kader nahdliyin yang ditonjolkan baik nasional maupun internasional. Sehingga pemaknaan bahwa inteklektualisasi progesifitas merupakan bagian dari rencana yang ingin dicapai dapat berjalan dengan baik dan tidak ada kesenjangan didalamnya dan mampu diharapkan berhasil dengan baik.