Impact of the Community-based Fish Culture System on Expenditure and Inequality: Evidence from Bangladesh

2016 ◽  
Vol 47 (5) ◽  
pp. 646-657 ◽  
Author(s):  
A. B. M. Mahfuzul Haque ◽  
Madan Mohan Dey
2014 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Janu Dwi Kristianto ◽  
Sunardi Sunardi ◽  
Johan Iskandar

AbstrakDanau merupakan salah satu bentuk ekosistem yang menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi dibandingkan dengan habitat laut dan daratan. Bagi manusia kepentingannya jauh lebih berarti dibandingkan dengan luas daerahnya. Sejak tahun 1985 Danau Teluk di Kota Jambi mulai digunakan sebagai lokasi budidaya ikan dengan karamba jaring apung (KJA) dengan jumlah KJA yang beroperasi pada tahun 2012 mencapai + 878 unit dari 64 pembudidaya ikan dan akan meningkat terkait penetapan Propinsi Jambi sebagai salah satu kawasan minapolitan perikanan budidaya guna peningkatan produksi perikanan. Pemanfaatan Danau Teluk sebagai media untuk budidaya ikan di KJA diperlukan upaya untuk mendorong pengelolaan terhadap sumberdaya milik umum ini agar terus bekelanjutan. Kajian mengenai dukung perairan dan pemanfaatan daya Danau Teluk Kota Jambi untuk budidaya ikan sistem KJA bertujuan untuk mengetahui daya dukung Danau Teluk yang digunakan untuk kegiatan budidaya ikan di KJA, bagaimana deskripsi pemanfaatan danau untuk budidaya ikan di KJAyang selama ini dilaksanakan oleh masyarakat sekitar dan merumuskan pola pemanfaatan Danau Teluk untuk budidaya ikan di KJA yang berbasis masyarakat secara berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  daya dukung perairan Danau Teluk Kota Jambi untuk budidaya ikan di KJA adalah sebesar 517,617 ton ikan  per tahun dengan estimasi jumlah pakan di KJA yang diberikan pada ikan sebanyak 931,710 ton pakan ikan per tahun dengan asumsi kadar total P yang masuk ke perairan danau melalui limbah ikan sebanyak 20 kg P/ ton ikan. Jumlah ideal unit KJA yang seharusnya beroperasi di Danau Teluk berdasarkan penghitungan daya dukung danau sebanyak 862, 695 unit ~ 862 unit. Saat ini jumlah KJA yang beroperasi adalah sebanyak 878 unit sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah sebanyak 16 unit. Pemanfaatan Danau Teluk untuk budidaya ikan oleh masyarakat dilakukan secara sederhana dan jumlah KJA yang terdapat ternyata sudah sedikit melebihi daya dukung perairan jika dilihat dari konsentasi Total P yang ada di perairan. Peningkatan jumlah KJA yang ada di danau perlu mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat setempat. Pola pemanfaatan danau untuk budidaya ikan berbasis masyarakat yang direkomendasikan adalah dengan mengeluarkan ijin usaha budidaya ikan agar kegiatan budidaya ikan dapat terkendali dan tidak merusak lingkungan, menggunakan pola pemeliharaan ikan dengan jaring ganda sehingga biaya operasional lebih efisien dan produksi ikan dapat ditingkatkan, membuat manajemen pakan dalam penerapan budidaya ikan dalam KJA, meningkatkan SDM pembudidaya ikan dan mengaktifkan kembali kelompok pembudidaya ikan sehingga koordinasi antar pembudidaya, pemerintah dan stakeholder terkait dapat terjalin serta pengaturan tata ruang KJA.Kata Kunci : pemanfaatan danau, daya dukung, Danau Teluk, budidaya ikan KJA, berbasis masyarakatAbstracLake is one of ecosytem form than occupies a relative small area on the surface of the earth as compared to sea and land habitats. For humans, utilization  is more important than the expanse of lands. Since 1985, Teluk Lake began to be used as the location of fish cultivation with floating net cage culture (FNCC). The number of FNCC in 2012 reached ± 878 unit of 64 fish farmers and it will increase related to determination of Jambi Province as one of Minapolitan fishery cultivation in order to increase fish production. Utilization of Teluk Lake as media for fish cultivation on floating cage is necessary to encourage the management of common resources is to be kept sustainable.  Studies on carrying capacity and utilization of Teluk Lake Jambi City for community-based fish cultivation on FNCC aims to know how the use of this lake that have been implemented by the local community and to find out patterns of Teluk Lake utilization to fish culture in floating cage sustainable community-based  and to find out how the carrying capacity Teluk lake that used to fish farming activities in floating cage. Methods used in this study is qualitative and quantitative methods with a descriptive approach. 1Result showed that carrying capacity of Teluk lake for fish farming in FNCC is equal  517,617 tons of  fish per year with estimate amount of feed given to fish in floating cage is as many as  931,710 ton per year assuming total P were entered into the lake through fish waste as much 20 k P/ton of fish. Ideal number of floating cage based on lake  carrying capacity accounting should be 862,695 unit ~ 862 unit. Operating floating cage currently  is  878 unit so that it is necessary reduction in the amount of 16 unit and if they want to add a new one, it should be an improvement or replacement of existing floating cage at lake. Utilization of Teluk Lake for fish farming is done simple by local communities and number of existing floating cage already slightly exceed the carrying capacity of lake if related from existing concentration of total P in water. The increasing amount of floating cages in lake should be attend from goverment and local communities, so it is necessary to manage the use of lake for fish cultivation. Pattern of lake utilization for fish farming  based- community ist recommended to issue a business licence, in order to control fish farming activity, and not damage the environment, using growt out pattern by double nets so that more efficient operating cost and fish production can be increased, making management of feed in fish farming at floating cage, develop capability of human resouces, activate again POKDAKAN so coordination between farmers, goverment and stakeholder can be build and layout arrangement FNCC. Keywords : Lake utilization, carrying capacity,Teluk Lake, fish culture on floating cage,community based


2021 ◽  
Author(s):  
Hadi Poorbagher ◽  
Gholamreza Rafiee ◽  
Kamran Rezaei Tavabe ◽  
Fateh Moezzi

2010 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 369-379 ◽  
Author(s):  
M. I. Hossain ◽  
C. Siwar ◽  
M. B. Mokhtar ◽  
M. M. Dey ◽  
A. H. Jaafar

Beel  Mail is a 100 ha seasonal floodplain beel where community based fish culture was introduced during rainy season with 73 community members by department of fisheries with the funding support of WorldFish Center in year 2006. Socio-economic impact of this management was compared with control beel Chandpur. Beel Chandpur is 200 ha seasonal floodplain beel where also 16 landowner part time fishermen introduced fish culture during flooding. Beel Mail was stocked with 34.93 kg ha-1 fish fingerlings and beel Chandpur was stocked with 9.68 kg ha-1. Fish was harvested after about 6 months culture period and it was noticed that the gross production was   about 4.7 times higher in the project site than the control site. Farmers obtained TK 7481.23 ha-1 as net return based on production cost in beel Mail and TK 3261.90 ha-1 as net return based on production cost in beel Chandpur. Average fish consumption increased by 20.49% in project site. In addition, future stocking and saving fund for fishermen society were established and sharing of benefit from fish culture was more evenly distributed between landowners and landless fishermen in project site than control beel. Keywords: Beel; Landowner; Landless; Community based fisheries management. © 2010 JSR Publications. ISSN: 2070-0237 (Print); 2070-0245 (Online). All rights reserved. DOI: 10.3329/jsr.v2i2.3430                J. Sci. Res. 2 (2), 369-379 (2010) 


Author(s):  
William M. Lewis ◽  
John H. Yopp ◽  
Harold L. Schramm ◽  
Alan M. Brandenburg
Keyword(s):  

2007 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 137 ◽  
Author(s):  
D. Shafruddin ◽  
. Yuniarti ◽  
Mia Setiawati

<p>Demand of "dumbo" catfish is going to increase every year so that fry production should be increased in order  to support intensification culture system to meet market demand. Intensification in fish culture system may cause decreasing of dissolved oxygen content  and producing high level waste in the pond culture.  The effort to control inorganic nitrogen in intensive culture system can be performed by adding wheat powder into fish culture media.  This can support metabolic process of nitrogen by microbe and then produce protein in terms of bacteria biomass production, so that inorganic nitrogen in the water decreases.  Fish can utilize protein from  microbe efficiently. This study was conducted to examine effect of rearing density on "dumbo" catfish fry production in the culture system by controlling nitrogen content in water through addition of  wheat powder.  "Dumbo" catfish fry of 12-day old in average body weight of 0.046±0.006 gram and length of 1.7±0.9 cm were reared for 28 days in density of 400, 800 and 1200 fish/m<sup>2</sup>.  The results of study showed that weight and body length of fry reached 1.35 gram and 5.1 cm, respectively. Average of daily growth and production were 10.47 - 11.48% and 2.49 - 3.54 g per day, respectively. Increased of rearing density was insignificantly (<em>p</em>>0.05) affected growth rate and daily production.  Average growth in absolute length, survival rate and feed efficiency was about 2.7-3.2 cm, 36.20 - 53.88% and 147 - 172%, respectively.  Increased in rearing density was followed by decreased growth in length (<em>p</em><0.05), survival rate and feed efficiency.</p> <p>Keywords: "dumbo" catfish, <em>Clarias</em>, nitrogen, wheat, rearing density</p> <p> </p> <p>ABSTRAK</p> <p>Permintaan ikan lele dumbo terus meningkat setiap tahunnya sehingga diperlukan peningkatan produksi benih untuk mendukung intensifikasi usaha budidaya dalam rangka memenuhi permintaan pasar. Budidaya ikan secara intensif dapat menyebabkan menurunnya kadar oksigen air, sedangkan limbah yang dihasilkan tinggi. Upaya untuk mengendalikan nitrogen anorganik pada budidaya intensif dapat dilakukan melalui pemberian tepung terigu ke dalam media budidaya. Hal ini akan mendukung proses metabolisme nitrogen oleh mikroba dan akan menghasilkan protein dalam bentuk bakteri sehingga nitrogen anorganik dalam air menjadi berkurang. Protein mikroba yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein yang efisien bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan terhadap produksi benih ikan lele dumbo pada sistem budidaya  dengan pengendalian nitrogen melalui penambahan tepung terigu. Benih ikan lele dumbo (<em>Clarias sp</em>.) umur 12 hari dengan bobot rata-rata 0,046±0,006 gram dan panjang 1,7±0.9 cm dipelihara selama 28 hari dengan kepadatan 400 ekor/m<sup>2</sup>, 800 ekor/m<sup>2</sup>, 1200 ekor/m<sup>2</sup>.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  benih ikan mengalami peningkatan ukuran berat (1,35 gram) dan panjang (5,1 cm). Nilai rata-rata pertumbuhan dan produksi harian masing-masing berkisar 10,47 - 11,48% dan 2,49 - 3,54 gr/hari. Peningkatan kepadatan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap laju pertumbuhan dan produksi harian. Nilai rata-rata pertumbuhan panjang mutlak, kelangsungan hidup dan efisiensi pakan masing-masing berkisar 2,7-3,2 cm, 36,20 - 53,88% dan 147 - 172%. Peningkatan kepadatan diikuti dengan penurunan pertumbuhan panjang (p<0,05), kelangsungan hidup dan efisiensi pakan.</p> <p>Kata kunci: lele dumbo, <em>Clarias</em>, nitrogen, terigu, padat penebaran</p>


2017 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 26
Author(s):  
Wahyulia Cahyanti ◽  
Vitas Atmadi Prakoso ◽  
Otong Zenal Arifin ◽  
Irin Iriana Kusmini

Superior Fish Production in Intensive Paddy Cum Fish Culture         Aquaculture development in Indonesia is expected to push forward the fish farmers entrepreneurship and competitiveness of aquaculture products in a sustainable manner through improved efficiency and cooperative advantages. Development of fisheries resources in accordance with the management and the optimal use or to provide added value of the fish itself also to provide other products. One technology that can be used is through technology in paddy cum fish culture. This study aimed to improve of land productivity through superior tilapia production in paddy cum fish culture system. In general, the best results obtained in treatment A (no treatment). Productivity of rice and fish could be enhanced by applying paddy cum fish culture  system by 4 to 5.5 million or 10-15% per hectare rice field.Keywords: Minapadi, Productivity, Nila, Fertilizer ABSTRAK          Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia ke depan diharapkan dapat  mendorong masyarakat perikanan/pembudidaya untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan dan daya saing produk perikanan budidaya secara berkelanjutan melalui peningkatan efisiensi dan keunggulan koperatif. Pengembangan sumber daya perikanan yang sesuai dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang optimal dan dapat memberikan nilai tambah selain dari ikannya itu sendiri juga produk lainnya. Salah satu teknologi yang dapat digunakan yaitu melalui teknologi minapadi. Penelitian ini bertujuan untukmeningkatkan produktivitas lahan melalui produksi ikan nila unggul dalam sistem minapadi. secara umum, hasil terbaik diperoleh pada perlakuan A (tanpa perlakuan). Dari hasil penelitian, didapatkan kesimpulan bahwa Ikan nila lebih baik pertumbuhannya dibanding mas.Secara umum hasil terbaik diperoleh dari lahan kontrol atau tanpa perlakuan. Produktivitas padi dan ikan dapat ditingkatkan dengan menerapkan sistem minapadi senilai 4-5,5 juta atau 10-15% tiap hektar sawah.Kata kunci : minapadi, produktifitas, Nila, pupuk


2020 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 5-15
Author(s):  
Artbanu Wishnu Aji

Budi daya ikan di kawasan Godean memang bukan fenomena baru, tetapi kemampuannya untuk menarik wisatawan dan pengunjung belum pernah dieksplorasi secara menyeluruh. Beberapa generasi muda di Desa Sidoagung memiliki ide untuk mengembangkan kawasan budi daya ikan mentah menjadi restoran keluarga dengan area bermain untuk anak-anak. Ketidakmampuan mereka dalam mendesain mendorong Jurusan Desain Institut Seni Indonesia untuk membantu mereka dengan pelatihan singkat tentang bagaimana mendesain area taman berdasarkan partisipasi masyarakat. Dengan pendekatan desain berbasis komunitas, pelatihan diadakan dengan cara temu komunitas dan mengajak komunitas muda untuk secara aktif mengkomunikasikan gagasan mereka sendiri satu sama lain. Mereka mengembangkan keterampilan desain dengan mempraktikkan menggambar dan menggambar ulang beberapa objek umum dalam komposisi taman. Pelatihan tersebut berhasil meningkatkan kemampuan anggota komunitas remaja untuk mengembangkan desain restoran keluarga dengan taman dan area bermain untuk anak-anak. Fish culture in Godean area is not a new phenomena however its ability to atrracts tourists or visitors is never thouroughly explored. Some younger generations in the Sidoagung village had an idea to develop raw areas of fish culture into family restaurant with playground area for the children. Their lack ability to design prompted design department of Indonesia Institute of The Art to help them with short training on how to design garden area based on community participation. Using community based design approach the training was held in the manner of community meeting and encourage youth community to activily communicate their own ideas with one another. They developed design skill by practicing drawing and re-draw some of the common objects in the garden composition.The training succeed in upgrading youth community member to develop family restaurant design with garden and playground area for children. 


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document