Sweet spot fracable window of lithofacies association of brown shales in KiliranJao Sub-basin, West Sumatra Indonesia using rock geomechanics approach

2020 ◽  
Author(s):  
Aris Buntoro ◽  
C. Prasetyadi ◽  
Ricky Adi Wibowo ◽  
Suranto
2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 08-15
Author(s):  
Rahma Triyana ◽  
Salmi Salmi

Malaria is one of the health problems in Indonesia, especially West Sumatra. Determination of the description of Malaria disease in an area is needed to determine the spread and severity of the disease. This study aims to determine the frequency distribution according to age, sex and place of residence, description of the types of Plasmodium causes of Malaria and hematological features in Malaria patients at Siti Rahmah Padang Hospital in 2018. This type of research is a descriptive observational study with an approach or design cross section (cross sectional). The frequency distribution of Malaria sufferers in Siti Rahmah Padang Hospital in 2018 according to the highest age was in the age group 21-30 years as many as 28 cases (36.8%), the highest sex among men was 46 (60.5%) and the highest number of residences was found in Koto Tangah sub-district there were 31 cases (40.8%). The type of Plasmodium found in Malaria cases in Siti Rahmah Padang Hospital in 2018 was P. vivax (73 cases (96.05%)) and P. falciparum (3 cases (3.95%)). The results of laboratory tests on Hb, hematocrit, platelet and leukocyte levels in Malaria positive patients in Siti Rahmah Padang Hospital in 2018 were in the normal range.


2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 08-15
Author(s):  
Rahma Triyana Y ◽  
Salmi Salmi

Malaria is one of the health problems in Indonesia, especially West Sumatra. Determination of the description of Malaria disease in an area is needed to determine the spread and severity of the disease. This study aims to determine the frequency distribution according to age, sex and place of residence, description of the types of Plasmodium causes of Malaria and hematological features in Malaria patients at Siti Rahmah Padang Hospital in 2018. This type of research is a descriptive observational study with an approach or design cross section (cross sectional). The frequency distribution of Malaria sufferers in Siti Rahmah Padang Hospital in 2018 according to the highest age was in the age group 21-30 years as many as 28 cases (36.8%), the highest sex among men was 46 (60.5%) and the highest number of residences was found in Koto Tangah sub-district there were 31 cases (40.8%). The type of Plasmodium found in Malaria cases in Siti Rahmah Padang Hospital in 2018 was P. vivax (73 cases (96.05%)) and P. falciparum (3 cases (3.95%)). The results of laboratory tests on Hb, hematocrit, platelet and leukocyte levels in Malaria positive patients in Siti Rahmah Padang Hospital in 2018 were in the normal range.


2016 ◽  
Vol 12 (4) ◽  
Author(s):  
Ari Sandyavitri

This paper objectives are to; (i) identification of risky slopes (within 4 Provinces in Sumatra including Provinces of Riau, West Sumatra, Jambi and South Sumatra encompassing 840 kms of the “Jalan Lintas Sumatra” highway) based on Rockfall Hazard Rating Systems (RHRS) method; (ii) developing alternatives to stabilize slope hazards, and (iii) selecting appropriate slopes stabilization techniques based on both proactive approach and value engineering one. Based on the Rockfall Hazard Rating Systems (RHRS) method, it was identified 109 steep slopes prone to failure within this highway section. Approximately, 15 slopes were identified as potential high-risk slopes (RHRS scores were calculated >200 points). Based on the proactive approach, seven riskiest slopes ware identified. The preferred stabilization alternatives to remedy most of these slopes are suggested as follow; either (i) a combination of retaining wall and drainage, or (ii) gabion structure and drainage. However, different approaches may yield different results, there are at least 2 main consideration in prioritizing slope stabilization; (i) based on the riskiest slopes, and(ii) the least expensive stabilization alternatives.


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 86-91
Author(s):  
DESSY ANGRAINI ◽  
Iza Ayu Saufani

Era SDGs (sustainable development goals) merupakan kelanjutan program MDGs (Millenium Development Goals) memiliki tujuan bersama yang universal untuk memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan yang berkelanjutan, salah satu tujuannya adalah menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang. Pentingnya ketersediaan air bersih bagi kehidupan masyarakat dapat memberikan pengaruh penting terhadap kesehatan masyarakat,sehingga air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari kualitasnya harus memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan air. Berdasarkan informasi wali jorong palupuah mengatakan bahwa sumber air yang digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari secara fisik berwarna, terdapat endapan pada penampungan air, dan belum pernah diuji keamananya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ketersediaanair bersih di Jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh KabupatenAgam.Penelitian ini merupakan penelitian observasional survey dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua rumah tangga yang berada di Jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sampel penelitian berjumlah 74 KK ditentukan dengan teknik proportionate stratified random sampling dan analisis data dilakukan dengan univariate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden di jorong Palupuah Nagari Pasia Laweh Kabupaten Agam, Sumatera Barat mayoritas berusia 25-45 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir adalah tamat SMA. Berdasarkan hasil survey rata-rata jumlah anggota keluarga di jorong Palupuah berjumlah 3 orang (32,4%), dan mayoritas responden bekerja sebagai IRT dengan tingkat penghasilan keluarga rata-rata Rp.1.500.000.Terdapat lima sumber air baku utama yang dijadikan sebagai sumber air bersih oleh masyarakat jorong dan sebagian besar sumber air yang digunakan berasal dari sumber mata air (71.8%). Selain itu, masih ada sebagian masyarakat yang mengeluhkan penyaluran air yang tidak lancar (35,1%). Serta masih ada 41.9% yang mengatakan tidak mudah mendapatkan air bersih. Kualitas air bersih yang disalurkan di Jorong Palupuah termasuk dalam kategori baik. Namun, sebagian besar masyarakat tidak menggunakan PDAM dan sumber air yang digunakan sangat tidak menunjang untuk dikonsumsi.


Panggung ◽  
2013 ◽  
Vol 23 (3) ◽  
Author(s):  
Indrayuda

ABSTRACT This article aims to explain the existence of Tari Piring dance as a culture identity of Minang- kabau people, both the people who live in the origin area and outside the area. Tari Piring dance is a traditional cultural heritage of Minangkabau people which is used and preserved by Minangkabau people in their life so that it becomes culture identity of Minangkabau people. As the identity of Minangkabau people, Piring dance is able to express attitudes and behaviors as well as the charac- teristics of Minangkabau people. The dance can serve as a reflection of social and cultural life style of Minangkabau society. Through Tari Piring performance, the outsider can understand Minangkabau people and their culture. Tari Piring, therefore, is getting more adhere to the social life of Minang- kabau people in West Sumatra and in the regions overseas. In the spirit of togetherness, Minang- kabau society preserves the existence of Piring dance as the identity and cultural heritage up to the present time. Keywords: Piring Dance, Minangkabau culture  ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan Tari Piring sebagai identitas bu- daya masyarakat Minangkabau, baik yang berada di daerah asal maupun di daerah peran- tauan. Tari Piring merupakan warisan budaya tradisional masyarakat Minangkabau yang digunakan dan dilestarikan oleh masyarakat Minangkabau dalam kehidupannya sehingga menjadi identitas budaya Minangkabau. Sebagai jati diri masyarakat Minangkabau, Tari Piring mampu mengungkapkan sikap dan prilaku serta karakteristik orang Minangkabau. Tari Piring dapat berperan sebagai cerminan dari corak kehidupan sosial budaya masyara- kat Minangkabau. Melalui pertunjukan Tari Piring, masyarakat luar dapat memahami orang Minangkabau dan budayanya. Oleh karena itu, sampai saat ini Tari Piring semakin melekat dengan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat maupun di daerah perantauan. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat Minangkabau mampu mempertahankan keberadaan Tari Piring sebagai identitas dan warisan budayanya hingga masa kini. Kata kunci : Tari Piring, budaya Minangkabau


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document