On the Application of Open-Path Fourier Transform Infra-Red Spectroscopy To Measure Aerosols:  Observations of Water Droplets

1999 ◽  
Vol 33 (7) ◽  
pp. 1141-1144 ◽  
Author(s):  
Ram A. Hashmonay ◽  
Michael G. Yost
Atmosphere ◽  
2019 ◽  
Vol 10 (4) ◽  
pp. 208 ◽  
Author(s):  
Frances A. Phillips ◽  
Travis Naylor ◽  
Hugh Forehead ◽  
David W. T. Griffith ◽  
John Kirkwood ◽  
...  

Airborne particulate matter (PM) is a major health risk in urban settings. Ammonia (NH3) from vehicle exhaust is an under-recognised ingredient in the formation of inorganic PM and there remains a shortage of data to properly quantify the role of NH3 from vehicles in PM formation. An Open-path Fourier transform infra-red (OP-FTIR) spectrometer measured atmospheric NH3, carbon monoxide (CO) and carbon dioxide (CO2) at high temporal resolution (5 min) in Western Sydney over 11 months. The oxides of nitrogen (NO2 and NO; NOx) and sulphur dioxide (SO2) were measured at an adjacent air quality monitoring station. NH3 levels were maxima in the morning and evening coincident with peak traffic. During peak traffic NH3:CO ratio ranged from 0.018 to 0.022 ppbv:ppbv. Results were compared with the Greater Metropolitan Region 2008 (GMR2008) emissions inventory. Measured NH3:CO was higher during peak traffic times than the GMR2008 emissions estimates, indicating an underestimation of vehicle NH3 emissions in the inventory. Measurements also indicated the urban atmosphere was NH3 rich for the formation of ammonium sulphate ((NH4)2SO4) particulate was SO2 limited while the formation of ammonium nitrate (NH4NO3) was NH3 limited. Any reduction in NOx emissions with improved catalytic converter efficiency will be accompanied by an increase in NH3 production and potentially with an increase in NH4NO3 particulate.


Arena Tekstil ◽  
2014 ◽  
Vol 29 (1) ◽  
Author(s):  
Rizka Yulina ◽  
Srie Gustiani ◽  
Wulan Septiani

Selulosa bakterial mempunyai sifat mekanik yang baik untuk digunakan sebagai membran pada proses pengolahan air limbah tekstil. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan dan karakterisasi serat hollow dari bahan baku selulosa bakterial nata de coco dengan penambahan nanopartikel ZnO sebagai fotokatalis terimmobilisasi. Selulosa bakterial disintesis menggunakan bakteri Acetobacter xylinum di dalam medium air kelapa dan gula. Selulosa bakterial dilarutkan bersama dengan nanopartikel ZnO menggunakan pelarut cuprietilen diamina (Cuen) dengan variasi selulosa bakterial 2,25% dan 2,50%. Serat berbentuk hollow dihasilkan dari proses wet spinning menggunakan koagulan NaOH. Serat hollow yang telah melalui koagulan kemudian direndam dalam larutan asam, gliserol, dan alkohol, dengan variasi waktu perendaman asam selama 1 dan 2 hari. Uji kekuatan tarik menunjukkan hasil yang terbaik yakni sebesar 815,72 gf pada konsentrasi selulosa bakterial 2,50% dan perendaman asam selama 2 hari. Dari hasil uji gugus fungsi menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR), terdapat beberapa gugus fungsi yang menunjukkan keberadaan selulosa dan nanopartikel ZnO. Proses dekolorisasi fotokatalitik terhadap air limbah tekstil artifisial yang mengandung zat warna reaktif Remazol Black 5 (RB5) menunjukkan bahwa pH optimum proses penyisihan warna yakni pada pH 9 dan dihasilkan persen penyisihan warna yang tertinggi yaitu 90,32%. Pada kondisi yang sama, proses dekolorisasi RB5 menggunakan serat hollow tanpa nanopatikel ZnO hanya menghasilkan persen penyisihan warna sebesar 32,10%. Berdasarkan laju penyisihan zat warna, aktivitas degradasi fotokatalitik terbesar (k’ = 0,2615) diperoleh pada konsentrasi ZnO 10% dan konsentrasi zat warna RB5 10 ppm.


Arena Tekstil ◽  
2013 ◽  
Vol 28 (1) ◽  
Author(s):  
Maya Komalasari ◽  
Bambang Sunendar

Partikel nano TiO2 berbasis air dengan pH basa telah berhasil disintesis dengan menggunakan metode sol-gel dan diimobilisasi pada kain kapas dengan menggunakan kitosan sebagai zat pengikat silang. Sintesis dilakukan  dengan prekursor TiCl4 pada konsentrasi 0,3 M, 0,5 M dan 1 M, dan menggunakan templat kanji dengan proses kalsinasi pada suhu 500˚C selama 2 jam. Partikel nano TiO2 diaplikasikan ke kain kapas dengan metoda pad-dry-cure dan menggunakan kitosan sebagai crosslinking agent. Berdasarkan hasil Scanning Electron Microscope (SEM),diketahui bahwa morfologi partikel TiO2 berbentuk spherical dengan ukuran nano (kurang dari 100 nm). Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan adanya tiga tipe struktur kristal utama, yaitu (100), (101) dan (102) dengan fasa kristal yang terbentuk adalah anatase dan rutile. Pada karakterisasi menggunakan SEM terhadap serbuk dari TiO2 yang telah diaplikasikan ke permukaan kain kapas, terlihat adanya imobilisasi partikel nano TiO2 melalui ikatan hidrogen silang dengan kitosan pada kain kapas. Hasil analisa tersebut kemudian dikonfirmasi dengan FTIR (Fourier Transform Infra Red) yang hasilnya memperlihatkan puncak serapan pada bilangan gelombang 3495 cm-1, 2546 cm-1, dan 511 cm-1,  yang masing-masing diasumsikan sebagai adanya vibrasi gugus fungsi O-H, N-H dan Ti-O-Ti. Hasil SEM menunjukkan pula bahwa kristal nano yang terbentuk diantaranya adalah fasa rutile , yang berdasarkan literatur terbukti dapatberfungsi sebagai anti UV.


1998 ◽  
Vol 285 (3-4) ◽  
pp. 216-220 ◽  
Author(s):  
T. Cabioc'h ◽  
A. Kharbach ◽  
A. Le Roy ◽  
J.P. Rivière

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document