scholarly journals Risk and impact of incident glucose disorders in hypertensive older adults treated with an ace inhibitor, a diuretic, or a calcium channel blocker: a report from the allhat trial

2004 ◽  
Vol 17 (5) ◽  
pp. S1 ◽  
Author(s):  
J BARZILAY
2020 ◽  
Vol 13 (01) ◽  
pp. 1-11
Author(s):  
Noverio Tarukallo ◽  
Haerani Rasyid

Salah satu faktor yang memiliki risiko yang terkait dengan kejadian disfungsi seksual pada pria adalah obat anti-hipertensi. Obat anti-hipertensi yang memiliki efek menyebabkan disfungsi seksual pada pria termasuk; diuretik, Clonidine, dan β-blocker (kecuali nebivolol), tetapi ada beberapa obat anti-hipertensi yang memiliki efek netral, bahkan memiliki efek positif yang dalam hal ini dapat meningkatkan fungsi seksual pada pria. Obat anti-hipertensi yang memiliki efek netral pada fungsi seksual pria meliputi; Calcium Channel Blocker dan ACE-Inhibitor dan yang memiliki efek meningkatkan fungsi seksual pada pria termasuk; ARB dan β-blocker yaitu nebivolol. Penggunaan obat anti-hipertensi dapat mempengaruhi fungsi seksual pada pria melalui mekanisme yang berbeda. Obat anti-hipertensi seperti diuretik, β-blocker, dan clonidine dapat menyebabkan disfungsi seksual pada pria melalui mekanisme perubahan dalam aliran simpatis, efek pada kontraksi otot polos fisik, dan melalui pengaruh pada kadar hormon androgen. Angiotensin Receptor Blocker dan Nebivolol dapat meningkatkan fungsi seksual melalui mekanisme penghambatan pada Angiotensin II dan meningkatkan bioavailabilitas Nitric Oxide.


2018 ◽  
pp. 1-6
Author(s):  
Agustina Susilowati ◽  
Annisa Meylana Wardani

    Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah lebih bescar dari 90/140 mmHg. Menurut profil kesehatan kabupaten Sleman (2012) penyakit hipertensi menempati peringkat ke dua dari sepuluh besar penyakit rawat jalan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola peresepan obat hipertensi dan penggunaan obat antihipertensi secara tunggal dan kombinasi obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Seyegan Sleman Yogyakarta periode Januari-Maret 2018.    Jenis penelitian ini yaitu deskriptif non eksperimental dengan pengumpulan data rekam medik pasien hipertensi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif yaitu menggambarkan dengan persentase, diagram atau tabel.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola peresepan obat antihipertensi di Puskesmas Seyegan Sleman Yogyakarta adalah golongan diuretik, Calcium Channel Blocker (CCB), Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor, Angiotensin Reseptor Blocker (ARB), dan Beta Blocker. Penggunaan obat antihipertensi tunggal yang digunakan adalah golongan CCB 66,67%, ACE Inhibitor 6,41%, dan ARB 1,28%. Sedangkan penggunaan obat antihipertensi untuk kombinasi dua jenis 19,24%, kombinasi tiga jenis 6,40%.    Pola peresepan obat antihipertensi yang digunakan di Puskesmas Seyegan Sleman Yogyakarta adalah golongan diuretik, CCB, ACE Inhibitor, ARB, dan Beta Blocker. Penggunaan obat antihipertensi tunggal yang paling banyak digunakan adalah golongan CCB dan untuk obat kombinasi dua jenis adalah golongan CCB dengan ACE Inhibitor.


2004 ◽  
Vol 32 (3) ◽  
pp. 233-239 ◽  
Author(s):  
J Menzin ◽  
K Lang ◽  
WJ Elliott ◽  
L Boulanger ◽  
R Arocho ◽  
...  

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document