Using the logistic organ dysfunction system to assess organ dysfunction in the intensive care unit

1998 ◽  
Vol 35 (3) ◽  
pp. 183-192
Author(s):  
J.-R. Le Gall ◽  
J. Klar ◽  
S. Lemeshow
Sari Pediatri ◽  
2019 ◽  
Vol 21 (1) ◽  
pp. 37
Author(s):  
Rismala Dewi ◽  
Fatimatuzzuhroh Fatimatuzzuhroh

Latar belakang. Skor PELOD-2 digunakan untuk mengetahui disfungsi organ pada anak dengan sakit kritis. Hasil skor PELOD-2 tidak selalu berbanding lurus dengan luaran perawatan anak sakit kritis sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai prediktor luaran dan mortalitas anak yang dirawat di PICU.Tujuan. Mengetahui profil dan luaran pasien sakit kritis yang dirawat berdasar skor PELOD-2.Metode. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengambil data rekam medis pasien rawat di ruang intensif anak RSUPN Cipto Mangukusumo, sejak Januari sampai Desember 2018. Pengambilan subjek secara total sampling, penilaian dilakukan pada 24 jam pertama perawatan. Hasil. Diperoleh 477 subjek yang memenuhi kriteria. Subjek sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (56,4%), berusia <1 tahun (27,9%), dengan bedah sebagai diagnosis awal terbanyak (65%). Sebagian besar pasien memiliki penyakit kronik (70,4%). Angka mortalitas penelitian ini adalah 10,7%. Mayoritas subjek memiliki lama rawat <7 hari (75,5%). Subjek dengan lama rawat >14 hari memiliki median skor PELOD-2 tiga kali lipat dari subjek dengan lama rawat <7 hari. Titik potong luaran mortalitas skor PELOD-2 pada penelitian ini adalah >5, memiliki spesifisitas 84,5% dan sensitifitas 84,3% dengan nilai AUC skor PELOD-2 dari kurva ROC sebesar 93,4% (IK 95% 90,6–96,2).Kesimpulan. Skor PELOD-2 dapat digunakan untuk memprediksi disfungsi organ yang mengancam kehidupan pada anak tanpa imunosupresi dan semakin tinggi skor PELOD-2 akan diikuti dengan peningkatan lama rawat dan mortalitas.


2012 ◽  
Vol 52 (2) ◽  
pp. 72 ◽  
Author(s):  
Lola Purnama Dewi ◽  
Eka Nurfitri

Background The pediatric logistic organ dysfunction (PELOD)score is widely used as a predictive tool of patient outcomesin pediatrics intensive care unit (PICU) settings, includingfor dengue shock syndrome (DSS) patients. We evaluated thepredictive value of PELOD scores in DSS patients taken withinthe first hours after PICU admission.Objective To evaluate the usefulness of PELOD scores takenin day 1 of PICU admission for predicting outcomes in DSSpatients.Methods We included 81 DSS subjects admitted to the PICUbetween April 2006 - October 2009 by consecutive sampling.There were 12 children under 12 months of age, 48 children 1- 5years of age, and 21 children above 5 years of age enrolled in thestudy. PELOD calculations were performed as set out by originalarticles, using the published formula.Results0fthe81PICUpatients,15 (18.5%) died. The estimated,predicted mortality using PELOD scores were 43% for infantsunder 12 months, 12% for children 1 - 5 years, and 10% forchildren above 5 years. The actual mortality rates were 58.3%(7 subjects) for infants under 12 months, 10.4% (5 subjects) forchildren 1-5 years, and 14.3% (3 subjects) for children above 5years. In patients who died, PELOD indicated the most commonorgan problems to be hepatic disorders (SGOT/SGPT > 950 IU!L)and haematologic disorders (prothrombin time, INR > 1.65) in 8(53.3%) subjects and 9 (60%) subjects, respectively.Conclusion PELOD scores from subjects taken on day 1 of PICUadmission can be used to predict mortality outcome. [Paediatrlndones. 2012;5 2: 72-7].


Sari Pediatri ◽  
2016 ◽  
Vol 15 (1) ◽  
pp. 32
Author(s):  
Rosary Rosary ◽  
Imral Chair ◽  
Pustika Amalia ◽  
Agus Firmansyah ◽  
Irawan Mangunatmadja ◽  
...  

Latar belakang. Hiperglikemia pada sakit kritis berhubungan dengan luaran yang lebih buruk, seperti lama penggunaan ventilasi mekanik, dan obat vasoaktif lebih panjang, serta derajat disfungsi organ yang lebih berat.Tujuan. Mengetahui hubungan karakteristik subjek dengan hiperglikemia serta mengetahui perbedaan proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia antara kelompok subjek yang memakai ventilasi mekanik, mendapat obat vasoaktif, serta dengan disfungsi organ berat, dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak.Metode. Studi analitik potong lintang dilakukan pada anak sakit kritis di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan-18 tahun, dilakukan antara Maret-Juni 2011.Hasil. Didapatkan 87 subjek penelitian, 60 di antaranya laki-laki. Hiperglikemia ditemukan pada 25/87 (28,7%) subjek dengan median kadar glukosa darah 121 (37-443) mg/dL Hiperglikemia ditemukan lebih banyak pada laki-laki, usia >1-5 tahun, gizi kurang, dan pasca-bedah, tetapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna. Subjek yang menggunakan ventilasi mekanik dan vasoaktif memiliki proporsi lebih besar mengalami hiperglikemia dibandingkan dengan subjek yang tidak, tetapi perbedaan ini juga tidak bermakna. Enam dari 10 subjek yang memiliki skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD) tinggi mengalami hiperglikemia. Proporsi ini lebih besar dibandingkan subjek dengan skor PELOD rendah, yaitu 19/77 subjek (p=0,03).Kesimpulan. Proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia lebih besar pada anak dengan disfungsi organ berat daripada disfungsi organ ringan. Karakteristik subjek tidak berhubungan dengan hiperglikemia pada sakit kritis. Tidak terbukti adanya perbedaan proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia pada anak sakit kritis yang menggunakan ventilasi mekanik dan obat vasoaktif dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak.


Sari Pediatri ◽  
2016 ◽  
Vol 15 (2) ◽  
pp. 116
Author(s):  
Emi Yulianti ◽  
Antonius H. Pudjiadi ◽  
Mardjanis Said ◽  
E.M. Dady Suyoko ◽  
Hindra Irawan Satari ◽  
...  

Latar belakang. Sepsis masih merupakan penyebab kematian terbesar di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Peran high density lipoprotein(HDL) pada keadaan sepsis mengikat dan menetralisir lipopolisakarida (LPS), menghambat adhesi molekul dalam kaskade inflamasi, dan sebagai antioksidan.Tujuan. Mengetahui profil HDL pada anak sepsis serta mengetahui hubungan kadar HDL dengan derajat sepsis berdasarkan skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD). Metode.Studi potong lintang pada anak sepsis di PICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan- 18 tahun antara April-Agustus 2011.Hasil. Didapatkan 34 subjek, dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia <2 tahun (19/34). Terdapat hubungan antara kematian dengan skor PELOD >20 (p=0,000). Lima dari 7 pasien dengan skor PELOD >20 ditemukan mempunyai kadar HDL rendah (p=1). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kematian dengan kadar HDL (p=0,248). Terdapat korelasi lemah berbanding terbalik antara kadar HDL dengan skoring PELOD tetapi tidak bermakna secara statistik (r =-0,304, p = 0,080)Kesimpulan. Pasien sepsis dengan skor PELOD tinggi cenderung memiliki kadar HDL rendah.


Sari Pediatri ◽  
2017 ◽  
Vol 18 (5) ◽  
pp. 357
Author(s):  
Eka Permata Sari ◽  
Pudjo Hagung Widjajanto ◽  
Nurnaningsih -

Latar belakang. Sindrom syok dengue (SSD) merupakan kondisi kegawatan yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Manajemen cairan yang tidak adekuat di pelayanan kesehatan prarujukan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap mortalitas pada SSD. Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD) dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas SSD.Tujuan. Menilai hubungan dan mortalitas terapi cairan prarujukan dengan skor PELOD dalam 24 jam pertama di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Metode. Penelitian rancangan kohort retrospektif pada anak SSD yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito bulan April 2011 – Maret 2016. Subjek dengan serologi dengue positif baik yang datang sendiri ke IGD ataupun rujukan dilakukan penilaian skor PELOD. Analisis bivariat chi-square digunakan untuk menilai hubungan terapi cairan prarujukan, skor PELOD dan mortalitas.Hasil. Terdapat 159 subyek berusia 1 bulan – 18 tahun. Hubungan bermakna terdapat pada skor PELOD ≥20 terhadap mortalitas SSD (p<0,05). Namun, tidak terdapat hubungan antara resusitasi cairan prarujukan dengan skor PELOD dan mortalitas (p>0,05). Kelebihan cairan prarujukan meningkatkan kematian 2,8 kali meskipun secara statistik tidak bermakna (p=0,06).Kesimpulan. Resusitasi prarujukan tidak berpengaruh terhadap mortalitas SSD anak. Skor PELOD ≥20 memiliki mortalitas yang tinggi pada SSD anak. Kelebihan cairan prarujukan meningkatkan mortalitas SSD. 


2011 ◽  
Vol 19 (4) ◽  
pp. 911-919 ◽  
Author(s):  
Maria Claudia Moreira da Silva ◽  
Regina Marcia Cardoso de Sousa ◽  
Katia Grillo Padilha

This study identifies the factors associated with death and readmission into the Intensive Care Unit. This is a longitudinal prospective study of 600 adult patients admitted in general Intensive Care Units of four hospitals in São Paulo, Brazil. The multiple regression analysis showed that patients with a longer length of stay and higher Nursing Activities Score, Simplified Acute Physiology Score II and Logistic Organ Dysfunction Score on the last day in the unit had a higher chance of death. Nevertheless, higher Nursing Activities Score and Logistic Organ Dysfunction Score on the first day in the intensive care unit were protective factors against death. Viral hepatitis as an antecedent increased the chance of readmission. On the other hand, higher Nursing Activities Score at discharge decreased this risk. It was concluded that the nursing workload was the main variable related to the outcomes analyzed.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document