Approximations of higher order resonances with an application to Contopoulos' model problem

Author(s):  
Jan A. Sanders ◽  
Ferdinand Verhulst
Keyword(s):  
2021 ◽  
Vol 2 (5) ◽  
pp. 652-664
Author(s):  
Mrs. Cik‘ani

Menurut peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan No. 103 tahun 2014 mengenai pembelajaran di tingkat pendidikan dasar dan menengah pasal 2 ayat 1, menjelaskan pelaksanaan pembelajaran pada Pendidikan dasar dan menengah harus berbasis aktivitas, kreatifitas dengan karakteristik. Amanat pemerintah mengharapkan peserta didik dapat mencapai berbagai kompetensi dengan penerapan pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan Keterampilan abad 21, dan hasil observasi dan wawancara di SMPN 2 Sukorejo aktivitas pembelajaran IPA, aspek pembelajaran berbasis masalah, tingkat berpikir HOTS dan keterampilan abad 21 masih rendah. Penelitian ini merupakan penelitian PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan 2 siklus masing-masing siklus ada empat tahap dengan jenis diskriptif kualitatif, instrumen yang digunakan berupa : 1)lembar observasi, 2)lembar catatan lapangan dan 3)soal tes dan soal lembar kerja. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMPN 2 Sukorejo ditemukan data bahwa pembelajaran berbasis aktifitas dengan karakteristik yang sesuai dengan amanat Permendikbud No 103 tahun 2014 pasal 2 ayat 1 pada proses pembelajaran masih belum maksimal sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitihan dengan tujuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran PBL(Problem Based Learning) dapat meningkatkan aktifitas dengan karakteristik dengan berorientasi pada pembelajajaran HOTS dan keterampilan abad 21. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa yakni 68,28% pada siklus 1 menjadi 83,8,% pada siklus II artinya ada peningkatan sebesar 15,52%, sedangkan untuk tingkat pemecahan masalah dari 63,8 % pada siklus 1 menjadi 78,975 % pada siklus II artinya ada peningkatan sebesar 15,175 %i Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Base Learning dengan berorientasi HOTS dan keterampilan abad 21 dapat meningkatkan aktifitas belajar dan keterampilan pemecahan masalah dengan karakteristik siswa.


Vidya Karya ◽  
2017 ◽  
Vol 31 (1) ◽  
Author(s):  
Silvia Uyani

Abstract: This research relates to the implementation of Problem Solving model in Banyu Landas Elementary School. The research objective is to increase students’ Higher Order Thingking Skills (HOTS). The research was conducted by using classroom action research (CAR) method through 2 cycles. Ten six class students of SDN Banyu Landas were used as research subject. The data collection used obeservation sheets and HOT oriented achievement test. The data were qualitatively analyzed with percentage technique. The result of research stated that (1) students’ Higher Order Thingking Skills (HOTS) increased from analysis skills 77,85% in the first cycle up to  synthesys skills 86,58% in the end of second cycle (2) the quality of teacher’s activity increased  from 58,41% in the first cycle  up to 71,14% in the end of second cycle; (2) students’ activity incresed  from 68,39% in the first cycle  up to 70,10% in the end of second cycle.              Keywords: Higher Order Thinking Skills, teacher activity, student activity , Problem Solving. Abstrak: Penelitian ini berkenaan dengan penerapan model Problem Solving di SDN Banyu Landas. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkt tinggi (Higher Order Thingking Skill/HOT) siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah 10 orang siswa kelas VI SDN Banyu Landas. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes hasil belajar berorientasi HOT. Data dianalisis secara kualitatif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skill/HOT) peserta didik meningkat dari kemampuan analisis 77,85% pada awal siklus I menjadi kemampuan sintesis 86,58% pada akhir siklus II kualitas, (2) aktivitas guru meningkat dari 58,41% pada siklus 1 menjadi menjadi 71,14%  pada siklus 2; (2) aktivitas siswa meningkat dari 68,39% pada siklus 1 menjadi 70,10% pada siklus II. Kata kunci: HOT (Higher Order Thinking) skills, aktivitas guru, aktivitas siswa, Problem Solving


INVENTA ◽  
2018 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 62-71
Author(s):  
Cholifah Tur Rosidah

Mengkaji penerapan model Problem Based Learning (PBL) untuk menumbuhkembangkan Higher Order Thinking Skill (HOTS) siswa Sekolah Dasar. Artikel ini ditulis melalui studi kepustakaan. PBL merupakan model dengan pendekatan belajar pada masalah autentik, sehingga siswa mampu menyusun pengetahuannya sendiri. PBL bercirikan menggunakan masalah yang riil sebagai bahan belajar siswa untuk melatih dan menumbuhkembangkan keterampilan berrpikir kritis serta pemecahan masalah guna mendapatkan konsep-konsep pengetahuan. HOTS adalah salah satu komponen yang harus dikembangkan dalam setiap pelaksanaan proses pembelajaran Kurikulum 2013. Aktivitas belajar harus dirancang agar siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berdasarkan hasil kajian, sintaks pembelajaran model PBL yang terlihat pada aktivitas belajar siswa dapat melatih dan menumbuhkembangkan high order thingking skill siswa, karena siswa memperoleh pengalaman secara langsung dan dapat mengubah tingkah laku (pengetahuan, ketrampilan, sikap) baik segi kuantitas maupun kualitas.


2020 ◽  
Author(s):  
Muhammad Fitri

Pada era sekarang ini, diperlukan inovasi sebuah model dalam pembelajaran sejarah untuk mencapai tujuan yang diinginkan setelah mengikuti pembelajaran sejarah. Salah satu perubahan yang menjadi penciri (karakteristik) Kurikulum 2013 Revisi terletak pada standar proses bahwa pembelajaran harus mampu mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order Thingking Skill). Tak terkecuali dalam Pembelajaran sejarah, salah satu tujuan yang diinginkan mampu dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran sejarah yaitu kemampuan berfikir historis dari peserta didik tersebut.Salah satu model yang bisa diterapkan dalam pembelajaran sejarah di era sekarang ini untuk menyesuaikan dengan karakteristik Kurikulum 2013 Revisi yaitu pengembangan pembelajaran HOTS adalah model pembelajaran Berbasis Masalah atau yang dikenal dengan sebutan Problem Based Learning. Model pembelajaran ini cocok digunakan dalam pembelajaran sejarah guna mencapai tujuan yang diinginkan untuk mengembangkan kemampuan berfikir historis peserta didik. Kata Kunci: Pembelajaran Sejarah HOTS Zaman Now, Problem Based Learning, dan Berpikir Historis


2020 ◽  
Author(s):  
Muhammad Fitri

Pada era sekarang ini, diperlukan inovasi sebuah model dalam pembelajaran sejarah untuk mencapai tujuan yang diinginkan setelah mengikuti pembelajaran sejarah. Salah satu perubahan yang menjadi penciri (karakteristik) Kurikulum 2013 Revisi terletak pada standar proses bahwa pembelajaran harus mampu mengembangkan kemampuan berfikir peserta didik tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order Thingking Skill). Tak terkecuali dalam Pembelajaran sejarah, salah satu tujuan yang diinginkan mampu dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran sejarah yaitu kemampuan berfikir historis dari peserta didik tersebut.Salah satu model yang bisa diterapkan dalam pembelajaran sejarah di era sekarang ini untuk menyesuaikan dengan karakteristik Kurikulum 2013 Revisi yaitu pengembangan pembelajaran HOTS adalah model pembelajaran Berbasis Masalah atau yang dikenal dengan sebutan Problem Based Learning. Model pembelajaran ini cocok digunakan dalam pembelajaran sejarah guna mencapai tujuan yang diinginkan untuk mengembangkan kemampuan berfikir historis peserta didik. Kata Kunci: Pembelajaran Sejarah HOTS Zaman Now, Problem Based Learning, dan Berpikir Historis


Mangifera Edu ◽  
2019 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 63-72
Author(s):  
Gita Erlangga Kurniawan

Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk memotivasi, membina, membantu dan membimbing seseorang untuk mengembangkan segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik. Inti dari pendidikan adalah usaha pendewasaan manusia seutuhnya (lahir dan batin), baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri, dalam arti tuntutan agar anak didik memiliki  kemerdekaan berfikir, merasa, berbicara, dan bertindak serta percaya diri dengan penuh rasa tanggung jawab dalam setiap tindakan dan prilaku kehidupannya sehari-hari(Basri, 2007:34). Dalam menghadapi dunia globalisasi siswa dituntut berpikiran Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan yang mencakup berpikir kritis, logis, reflektif, dan metacognitive dalam segala bidang terutama dalam bidang IPA. Kemampuan yang aktif ketika seorang peserta didik menghadapi permasalahn yang tidak biasa, ketidaktentuan, pertanyaan atau dilema dalam mehami bidang fluida statis. Fulida statsis ini memeiliki peranan  penting dalam siswa memahami teknik fisika Untuk membantu siswa bisa berpikir HOTS Higher Order Thinking Skill maka penulis membuat manejemen pendidikan di bidang modul IPA yang berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skill). Perancangan modul ini divalidasi oleh teman sejawat yang berkompeten sehingga menghasilkan modul yang membantu siswa dalam berpikir HOTS dalam bidang fluida statis sehingga siswa memiliki nilai di atas KKM (Kriteria Kelulusan Minimal)


Author(s):  
Hodiyanto Hodiyanto

The general objective of this study was to determine the effect of the Problem Based Learning model on the students' Higher Order Thingking Skills (HOTS) in the material of system of two-variable linear equations in class X of SMA Negeri 9 Pontianak. The specific objectives are (1) to find out the mathematical Higher Order Thingking Skills (HOTS) before and after applied Problem Based Learning in the material of system of two variable linear equations in class X of SMA Negeri 9 Pontianak. (2) to determine the effect and influence of the Problem Based Learning model on students' Higher Order Thingking Skills (HOTS) in the material of system of two-variable linear equations in class X of SMA Negeri 9 Pontianak. The method used in this study is an experiment, with a Pre-Experimental Design research form. The design in this study is One Group Pretest-Posttest Design, which uses only one sample group given the initial test and final test after being given treatment. Based on the results of data analysis conducted on the findings in the field, the results of this study indicate that there is an influence of the Problem Based Learning model on mathematical students' Higher Order Thingking Skills (HOTS) in the two-variable linear equation system material in class X Pontianak State High School 9. Keywords: Problem Based Learning, Higher Order Thingking Skills, experiment.


Mangifera Edu ◽  
2018 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 62-71
Author(s):  
Gita Erlangga Kurniawan

Dalam menghadapi dunia globalisasi siswa dituntut berpikiran Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan yang mencakup berpikir kritis, logis, reflektif, dan metacognitive dalam segala bidang terutama dalam bidang IPA. Pada penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian pengembangan modul pembelajaran berbasis model problem solving untuk meningkatkan High Order Thinking Skill (HOTS) dalam materi fluida statis. Peneliti tertarik membuat modul sederhana dengan pokok pembahasan fluida statis agar siswa tertarik dan memahami materi fluida statis. Di dalam modul tersebut peneliti merancang modul dengan merangsang pemikiran siswa untuk aktif menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan fluida statis di sekitar kehidupan sehari-hari. Modul ini di dalamnya terdapat lembar praktikum dan soal-soal yang berkaitan dengan fluida statis. Perancangan modul ini divalidasi oleh teman sejawat yang berkompeten sehingga menghasilkan modul yang berkualitas. Hasil penelitian ini perancangan modul yang dihasilkan adalah kategori bagus dinilai para validator dan positif bisa diterima dikalangan siswa tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan metode perancangan modul yang dihasilkan bisa meningkatkan nilai hasil belajar siswa dengan 28 siswa dengan nilai di atas KKM dan hanya 3 siswa di bawah nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) hal tersebut jauh lebih baik ketika hasil belajar siswa tanpa menggunakan modul yang tidak ada siswa seorang pun yang nilai nya di atas nilai KKM .


2019 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 65-72
Author(s):  
Safri Daryanti ◽  
Indra Sakti ◽  
Dedy Hamdani

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan pengaruh model Problem Solving berorientasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) terhadap hasil belajar fisika dan (2) mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan pembelajaran model Problem Solving berorientasi Higher Order Thinking Skills (HOTS). Jenis penelitian ini adalah Quasi Experiment Research tipe nonequivalent control group design dan one group pretest-posttest design. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara peserta didik yang diajar dengan pembelajaran model Problem Solving Berorientasi HOTS dengan peserta didik yang diajar dengan model pembelajaran konvensional ( pada taraf signifikan 5%) dan (2) terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan pembelajaran model Problem Solving Berorientasi HOTS dengan adanya kenaikan hasil tes kemampuan pemecahan masalah peserta didik setelah diajarkan dengan pembelajaran model Problem Solving Berorientasi HOTS sebesar 44,08. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran model Problem Solving berorientasi HOTS terhadap hasil belajar fisika dan meingkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.Kata Kunci: Problem Solving, Higher Order Thinking Skills (HOTS), Hasil Belajar Fisika, Kemampuan Pemecahan MasalahThis research aimed to (1) find the effect of HOTS-oriented Problem Solving models on physics learning outcomes and (2) describe the Problem Solving abilities of students with HOTS-oriented Problem Solving learning models. This type of research was a Quasi Experiment Research with type of nonequivalent control group design and one group pretest-posttest design. The results of the research showed that (1) there are significant differences in learning outcomes between students taught by learning the HOTS-oriented Problem Solving model and students taught with conventional learning model ( at the 5% significance level) and (2) there was an increase in students' Problem Solving abilities with learning HOTS-oriented Problem Solving model with an increase in the results of the student's Problem Solving ability tests after being taught with learning HOTS-Oriented Problem Solving models, 44.08. Based on results of research, it can be concluded that there is an influence of HOTS-oriented Problem Solving learning model on physics learning outcomes and improve students Problem Solving abilities. Keywords: Problem Solving, Higher Order Thinking Skills (HOTS), Physics Learning Outcomes, Problem Solving Abilities


Variabel ◽  
2018 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 51
Author(s):  
Falwi Uji Flamboyant ◽  
Eka Murdani ◽  
Soeharto Soeharto

<em>Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan Higher Order Thinking Skills (HOTS) peserta didik setelah diterapkannya model Problem Based Learning (PBL), (2) mengetahui persentase HOTS peserta didik sebelum dan setelah diterapkannya model PBL, dan (3) mengetahui pengaruh PBL terhadap HOTS peserta didik pada materi hukum Archimedes. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimen dengan desain penelitian pre-experimental dan jenis desain one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI IPA dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 23 orang. Instrumen yang digunakan berupa tes HOTS yang sebelumnya telah diujicobakan dengan reliabilitas sebesar 0,65. Deskripsi HOTS peserta didik dianalisis menggunakan Rasch Model diperoleh bahwa kemampuan menganalisis merupakan kemampuan yang paling banyak dikuasai oleh peserta didik, diikuti oleh kemampuan mencipta, dan terakhir kemampuan mengevaluasi. Persentase HOTS peserta didik dianalisis menggunakan aplikasi Microsoft Excel diperoleh bahwa kemampuan menganalisis dan mencipta mengalami peningkatan sebesar 2,72%, dan kemampuan mengevaluasi mengalami peningkatan sebesar 6,16%. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh model PBL terhadap HOTS dianalisis menggunakan effect size, diperoleh bahwa PBL memiliki pengaruh terhadap HOTS peserta didik sebesar 0.53 dengan kategori sedang.</em>


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document