Man-made fibre production by verticaltube wet spinning

1979 ◽  
Vol 10 (5) ◽  
pp. 468-476
Author(s):  
B. V. Korotkov ◽  
L. N. Seitova ◽  
N. A. Dorofeev ◽  
A. T. Serkov ◽  
G. A. Danilin
2019 ◽  
Vol 35 (4) ◽  
pp. 497-506 ◽  
Author(s):  
YINCHUN FANG ◽  
◽  
XINHUA LIU ◽  
XIAO WU ◽  
XUCHEN TAO ◽  
...  
Keyword(s):  

Arena Tekstil ◽  
2014 ◽  
Vol 29 (1) ◽  
Author(s):  
Rizka Yulina ◽  
Srie Gustiani ◽  
Wulan Septiani

Selulosa bakterial mempunyai sifat mekanik yang baik untuk digunakan sebagai membran pada proses pengolahan air limbah tekstil. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan dan karakterisasi serat hollow dari bahan baku selulosa bakterial nata de coco dengan penambahan nanopartikel ZnO sebagai fotokatalis terimmobilisasi. Selulosa bakterial disintesis menggunakan bakteri Acetobacter xylinum di dalam medium air kelapa dan gula. Selulosa bakterial dilarutkan bersama dengan nanopartikel ZnO menggunakan pelarut cuprietilen diamina (Cuen) dengan variasi selulosa bakterial 2,25% dan 2,50%. Serat berbentuk hollow dihasilkan dari proses wet spinning menggunakan koagulan NaOH. Serat hollow yang telah melalui koagulan kemudian direndam dalam larutan asam, gliserol, dan alkohol, dengan variasi waktu perendaman asam selama 1 dan 2 hari. Uji kekuatan tarik menunjukkan hasil yang terbaik yakni sebesar 815,72 gf pada konsentrasi selulosa bakterial 2,50% dan perendaman asam selama 2 hari. Dari hasil uji gugus fungsi menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR), terdapat beberapa gugus fungsi yang menunjukkan keberadaan selulosa dan nanopartikel ZnO. Proses dekolorisasi fotokatalitik terhadap air limbah tekstil artifisial yang mengandung zat warna reaktif Remazol Black 5 (RB5) menunjukkan bahwa pH optimum proses penyisihan warna yakni pada pH 9 dan dihasilkan persen penyisihan warna yang tertinggi yaitu 90,32%. Pada kondisi yang sama, proses dekolorisasi RB5 menggunakan serat hollow tanpa nanopatikel ZnO hanya menghasilkan persen penyisihan warna sebesar 32,10%. Berdasarkan laju penyisihan zat warna, aktivitas degradasi fotokatalitik terbesar (k’ = 0,2615) diperoleh pada konsentrasi ZnO 10% dan konsentrasi zat warna RB5 10 ppm.


Arena Tekstil ◽  
2012 ◽  
Vol 27 (2) ◽  
Author(s):  
Wiwin Winiati ◽  
Tatang Wahyudi ◽  
Indra Kurniawan ◽  
Rizka Yulina
Keyword(s):  

Serat kitosan mempunyai sifat getas, kekuatan yang rendah terutama dalam keadaan basah dan elongasisaat putus yang rendah disebabkan kristalin yang tinggi. Untuk dapat digunakan sebagai benang operasimonofilamen, diperlukan serat kitosan dengan diameter yang relatif kecil tetapi mempunyai kekuatan tarik yangtinggi disertai fleksibilitas dan elongasi yang baik sehingga mudah dibuat simpul. Proses dehidrasi dengan metanoltelah berhasil meningkatkan kekuatan dan menurunkan diameter tetapi elongasi menurun. Penelitian ini ditujukanuntuk meningkatkan sifat mekanik terutama elongasi serat kitosan dengan cara melakukan proses plastisisasidengan gliserol setelah proses dehidrasi dengan metanol . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada serat kitosanyang dibuat dari larutan kitosan dengan viskositas 5.684 mPa.s dengan alat wet-spinning menggunakan spinneretdengan diameter 1500 μm, proses dehidrasi dengan metanol dilanjutkan dengan proses plastisisasi dengan gliserolmemberikan penurunan diameter 7 %, peningkatan densitas 46%, peningkatan kekuatan tarik 90%, danpeningkatan elongasi 167 %. Dengan proses plastisisasi serat kitosan menjadi lebih hidrofil, densitas dan %kristalinitas naik sehingga serat lebih padat merata dan memberikan peningkatan elongasi yang signifikan.


2021 ◽  
Vol 13 (34) ◽  
pp. 40953-40963
Author(s):  
Chuang Wang ◽  
Yingzhan Li ◽  
Hou-Yong Yu ◽  
Somia Yassin Hussain Abdalkarim ◽  
Jinping Zhou ◽  
...  

2021 ◽  
Vol 3 (4) ◽  
pp. 2063-2069
Author(s):  
Azusa Togo ◽  
Shiori Suzuki ◽  
Satoshi Kimura ◽  
Tadahisa Iwata

2021 ◽  
Vol 13 (2) ◽  
pp. 233
Author(s):  
Ilja Vuorinne ◽  
Janne Heiskanen ◽  
Petri K. E. Pellikka

Biomass is a principal variable in crop monitoring and management and in assessing carbon cycling. Remote sensing combined with field measurements can be used to estimate biomass over large areas. This study assessed leaf biomass of Agave sisalana (sisal), a perennial crop whose leaves are grown for fibre production in tropical and subtropical regions. Furthermore, the residue from fibre production can be used to produce bioenergy through anaerobic digestion. First, biomass was estimated for 58 field plots using an allometric approach. Then, Sentinel-2 multispectral satellite imagery was used to model biomass in an 8851-ha plantation in semi-arid south-eastern Kenya. Generalised Additive Models were employed to explore how well biomass was explained by various spectral vegetation indices (VIs). The highest performance (explained deviance = 76%, RMSE = 5.15 Mg ha−1) was achieved with ratio and normalised difference VIs based on the green (R560), red-edge (R740 and R783), and near-infrared (R865) spectral bands. Heterogeneity of ground vegetation and resulting background effects seemed to limit model performance. The best performing VI (R740/R783) was used to predict plantation biomass that ranged from 0 to 46.7 Mg ha−1 (mean biomass 10.6 Mg ha−1). The modelling showed that multispectral data are suitable for assessing sisal leaf biomass at the plantation level and in individual blocks. Although these results demonstrate the value of Sentinel-2 red-edge bands at 20-m resolution, the difference from the best model based on green and near-infrared bands at 10-m resolution was rather small.


2021 ◽  
Vol 412 ◽  
pp. 128650
Author(s):  
Hyeon Dam Jeong ◽  
Seo Gyun Kim ◽  
Gyeong Min Choi ◽  
Minji Park ◽  
Bon-Cheol Ku ◽  
...  

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document